FTSE Russell Soroti Saham Konsentrasi Kepemilikan Tinggi (HSC), Siap Dikeluarkan dengan Harga Nol – Jakarta – Penyedia indeks global FTSE Russell secara resmi mengambil langkah tegas terhadap pasar modal Indonesia. Sorotan utama tertuju pada saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Langkah ini diambil dalam rangka menjaga integritas indeks dan kemampuan investor untuk mereplikasi indeks secara akurat.
Keputusan ini merupakan kelanjutan dari pengumuman FTSE Russell pada 9 Februari 2026. Setelah melalui periode pemantauan dan berdiskusi dengan otoritas pasar modal Indonesia, FTSE Russell memutuskan untuk tetap memberlakukan perlakuan khusus dalam tinjauan (review) indeks Juni 2026 .
Kebijakan Tegas: Dihapus dengan Metode “Price to Zero”
FTSE Russell menyoroti bahwa saham-saham yang masuk dalam kategori HSC memiliki likuiditas yang sangat terbatas. Jika saham-saham tersebut tetap dipertahankan dalam indeks, investor institusi global (khususnya passive fund atau pengelola dana indeks) akan slot bonus 100 kesulitan keluar dari posisi mereka secara wajar ketika saham dikeluarkan. Hal ini bisa menimbulkan tekanan harga yang tidak normal dan mengganggu integritas indeks .
Oleh karena itu, FTSE Russell memutuskan untuk mengeluarkan saham-saham HSC dengan metode “price to zero” (valuasi nol). Kebijakan ini efektif berlaku mulai pembukaan perdagangan pada Senin, 22 Juni 2026 .
Keputusan menghapus dengan harga nol ini merupakan langkah yang cukup langka, biasanya hanya diterapkan pada saham perusahaan yang bangkrut atau terkena sanksi berat sehingga sulit diperdagangkan. Ini menunjukkan bahwa FTSE Russell menganggap serius masalah likuiditas yang dihadapi oleh saham-saham HSC di Indonesia .
Saham yang Terancam dan Alasan di Baliknya
Meskipun FTSE Russell belum merilis daftar spesifik emiten yang akan terkena dampak, sejumlah nama besar telah menjadi sorotan publik dan analis karena isu HSC ini.
Mengapa Saham HSC Menjadi Masalah?
High Shareholding Concentration (HSC) adalah kondisi ketika kepemilikan saham suatu perusahaan terlalu terkonsentrasi pada pemegang saham pengendali atau kelompok afiliasi tertentu. Akibatnya, jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di publik (free float) menjadi terbatas .
Kondisi ini dianggap bermasalah bagi investor global karena:
-
Likuiditas Rendah: Volume transaksi harian cenderung tipis.
-
Sulit Masuk dan Keluar: Investor institusi besar kesulitan membeli atau menjual dalam jumlah besar tanpa memengaruhi harga secara signifikan.
-
Harga Tidak Mencerminkan Pasar: Pergerakan harga lebih mudah dimanipulasi sehingga tidak mencerminkan kondisi pasar yang sehat .
Dua emiten besar yang selama ini identik dengan isu HSC dan diprediksi akan terkena dampak adalah:
-
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) – milik taipan Prajogo Pangestu. Saham ini sebelumnya juga sempat menjadi pusat perhatian karena perdebatan free float saat akan masuk indeks FTSE .
-
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) – dari grup Sinarmas .
Kedua saham tersebut juga menjadi sorotan setelah MSCI (Morgan Stanley Capital International) sebelumnya mengambil langkah serupa dengan mengeluarkan sejumlah saham HSC dari indeksnya .
Dampak dan Perkembangan Lainnya
Langkah FTSE Russell ini menambah tekanan pada pasar modal Indonesia, terutama spaceman setelah langkah serupa yang diambil oleh MSCI. Hal ini dapat memengaruhi aliran dana asing karena banyak investor global menggunakan indeks FTSE sebagai acuan investasi .
Selain kebijakan HSC, berikut poin-poin penting lain dari tinjauan indeks Juni 2026:
-
Penundaan Penuh: FTSE Russell memutuskan untuk menunda full index re-ranking, kenaikan free float, dan penambahan saham IPO baru dari Indonesia setidaknya hingga tinjauan indeks September 2026 .
-
Pembaruan Terbatas: Untuk tinjauan Juni 2026, FTSE hanya akan memproses pembaruan terbatas seperti perubahan klasifikasi industri (ICB), penyesuaian free float, dan penghapusan saham karena faktor ESG atau syariah .
-
Apresiasi untuk Otoritas: FTSE Russell mengapresiasi langkah otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi, seperti publikasi daftar HSC dan aturan pengungkapan kepemilikan saham di atas 1%. Namun, mereka menilai masih diperlukan masa pemantauan lebih panjang .
Kesimpulan: FTSE Russell akan mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari indeksnya pada Juni 2026 menggunakan metode harga nol. Langkah tegas ini diambil untuk menjaga integritas indeks di tengah kekhawatiran akan likuiditas saham-saham tersebut. Keputusan ini menjadi tantangan sekaligus momentum bagi Indonesia untuk terus memperbaiki tata kelola dan transparansi pasar modal.
